JOURNEY OF LOVE THE SERIES - Mysterious Sight Chapter 6 ( END )
















Sora POV  




Aku mendengus kesal saat akhirnya tanganku terlepas dari genggamannya. Sungguh ini sudah kesekian kalinya aku mendapatkan perlakuan seperti ini dari Tao. Menarik paksa lenganku, apa ia merasa senang dengan kegiatan seperti itu?.

“ Tunggu apa lagi? Kau tidak ingin bermain?” aku menatapnya sebal. Tapi ia malah berlalu seolah tak melakukan kesalahan apapun.



“ Ini!” aku langsung mengambil sebuah kartu voucher yang biasa digunakan untuk bermain di area bermain ini. tanpa buang waktu aku langsung menggesekkannya pada sebuah permainan balap motor, yang sialnya bersebelahan dengan motor yang akan digunakan oleh Tao.


“ Lihat…siapa yang akan menang.” Aku meliriknya kesal. Kami berduapun langsung naik dan duduk di jok motor masing-masing. Kemudian menatap serius layar di depan, tak membiarkan sedikitpun raga ini lengah. 


“ Kau pikir kau bisa melakukannya lebih baik daripada aku?” ejekku. Jelas aku mengejeknya, toh kini posisiku berada jauh di depannya. Jadi sombong sedikit tidak masalah bukan?.


“ Eeiii….semua bisa saja terjadi dalam pertarungan manusia aneh!” lagi-lagi ia membuatku kesal. Membuat hati ini langsung terpancing untuk mengalahkannya.


Tapi setelah pergulatan yang sudah aku lakukan, aku harus menelan kekecewaan saat hasil akhirnya, pria tengil itu mengalahkanku. Ia bersorak senang, kemudian tersenyum seolah sedang menertawai kekalahanku. Tak ingin mendengar suaranya yang begitu mengganggu, aku langsung beralih menuju sebuah permainan menembak.


Ku pegang erat-erat sebuah pistol besar, kemudian mengarahkannya ke layar depan. Dengan sangat serius aku menembaki semua objek yang terpampang di layar LCD. “ Kalau dalam keadaan kesal seperti itu, sampai kapanpun kau tidak akan pernah menang. Percaya padaku.” Aku tak mempedulikan ucapannya yang sedang mencoba menceramahiku.


“ Tao jelek! Tao jelek! Tao jelek! Tao jelek! Rasakan ini manusia jelek!” umpatku pada objek yang berhasil ku tembak. Ku serukan namanya, seolah aku sedang memusnahkan manusia bernama Tao.


“ Yaph! Mati kau!” teriakku lepas, ketika objek terakhir berhasil ku musnahkan. Dengan perasaan bangga bercampur senang, aku langsung berbalik badan melihat sosok yang masih mematung. “ Lihat? Kadang amarah yang membara malah membuatmu berhasil mencapai apa yang kau inginkan.” Ucapku. Sekarang aku bisa  berjalan dengan penuh rasa bangga.



“ Begitukah?” aku tak menanggapinya, aku terus berkeliling, mencari mesin permainan lainnya.


Mataku seolah terjerat pada sebuah mesin berisi benda warna-warni dengan berbagai bentuk, maksudku boneka. Seperti sudah tak sabar untuk mengeruk habis semua benda dalam mesin itu, aku langsung menggesekkan kartu elektriknya, kemudian mulai mengarahkan tongkat kendali yang mengontrol pergerakan mesin pencapit untuk mengambil boneka itu.


Ku gerakkan ke kanan dan kiri setelah itu mengarahkannya jauh ke bawah, mendekati boneka-boneka itu. mulut ini terkatup rapat, bahkan semua raga ini seolah menegang saat mesin pencapit itu berhasil meraih sebuah boneka beruang berwarna cokelat. Tak ingin kehilangan kesempatan emas ini, dengan perlahan serta hati-hati aku membawa boneka itu agar tidak jatuh. Tapi..yakh! belum sampai di lubangnya, boneka itu sudah terlanjur jatuh. Membuatku mendecak kesal.


“ Lihat? Amarahmu itu tidak berguna sama sekali. Lihat ini! kau harus memainkannya dengan tenang.” Aku menatap datar sosok Tao yang kini sedang berdiri di depan mesin itu, ia sedang berusaha mengambil salah satu benda di dalamnya. Baiklah…kita lihat seberapa besar kemampuan yang dari tadi kau bangga-banggakan itu.


“Aha….aku mendapatkannya.” Ia bersorak heboh sambil memamerkan boneka yang baru ia dapatkan. Pria itu tertawa begitu girang, cihh…itu kan hanya boneka kenapa dia begitu senang?.


Aku melenggang membiarkan ia tertinggal di belakang, aku terus menggerutu kesal. Kenapa semua orang di sekitarku sangat menyebalkan?. Pertama eomma, kedua Soobin dan yang terakhir adalah makhluk menyebalkan di belakangku.


Tak peduli ia terus memanggil namaku, aku tetap melanjutkan langkah keluar dari area bermain tadi. Kini aku sudah berada di dekat eskalator, bersiap untuk segera turun ke bawah lalu keluar dari tempat ini.



“ Sora-aa…” aku mendesah kesal, saat ia kembali menarik paksa lenganku. Dasar pemaksa!.


“ Wae??” desakku dengan sengit. Jujur saja aku sedang tak ingin bercanda, jadi kalau ia menarikku hanya untuk mengejekku lebih baik urungkan saja.
“ Bagaimana kalau kita ke bioskop?”


Aku tak menjawab, justru malah membuang wajahku darinya. Sebenarnya aku juga tak keberatan  dengan usulan Tao, hanya saja keadaan membuatku harus menolaknya. Yah keadaan, keadaan yang membuatku tak bisa membeli apapun di mall ini. sisa uangku tinggal seribu won, bisa membeli apa aku dengan jumlah uang segitu.


“ Ayolah…”

“ Tapi..”

“ Aishh…kau ini susah sekali. Aku kan hanya mengajakmu ke bioskop, bukan ke neraka.”


“ Ya aku tahu! Hanya saja aku tidak punya uang bodoh!” ujarku setengah berteriak. Aku langsung diam tanpa berkata apapun, sama dengan Tao yang juga terdiam. Kini kami hanya menatap satu sama lain, kemudian menatap ke  arah lain.


“ Hanya karena itu? dasar bodoh!”





******






Author POV




Rona bahagia terpancar dari wajah setiap orang yang baru saja keluar dari gedung bioskop yang baru saja memutarkan sebuah film animasi tiga dimensi. Begitupun dengan dua makhluk bernama Sora dan Tao. Dua makhluk berlainan jenis itu kini saling bertukar pendapat setelah sebelumnya mereka terus bertengkar, tapi untungnya selama film diputar, dua orang itu bisa tenang, sehingga tak mengganggu penonton lainnya.


“ Apa kau lapar?” Sora diam tak menjawab pertanyaan Tao.



“ Aku traktir, bagaimana?” tawar Tao dengan senang hati, namun wajah lesu malah dipertontonkan Sora membuat Tao mengerinyit heran.


“ Anggap saja kita sedang merayakan ulang tahunku. Bagaimana?”
“ Ckk…sepertinya memang tak ada pilihan lain.” gumam Tao kehilangan akal. Tanpa memikirkan penolakan dari gadis di belakangnya, ia langsung menyeret gadis itu agar lekas mengikutinya.





******




Tao POV



Setelah menunggu lama, akhirnya pesanan kami datang. sebuah pizza besar dengan topping daging asap, ada juga dua piring fettucini serta dua gelas besar minuman soda. Rasanya benar-benar menggugah rasa lapar yang dari tadi menyiksa perutku.




Aku langsung mengambil sepotong pizza dan melahapnya perlahan, meski aku sedang sangat lapar, tapi aku tak lantas melupakan etika makan. Tapi rahangku berhenti bergerak saat menyadari sosok di depanku masih diam tak menyentuh sedikitpun makanan yang ada. Oh…ayolah! Apa aku harus menyuapinya dulu agar ia mau makan?.


“ Makanlah… Kau tidak lapar?”


Bukannya menjawab, Sora malah berbalik menatapku kemudian memutar bola matanya. Aku mendesah pelan, baiklah kalau begitu, sepertinya aku memilih pilihan pertama. Sepotong pizza ku ambil dari tempatnya kemudian mengarahkan makanan berbentuk segitiga itu pada Sora.


“ Aaaa…” ujarku menyuruhnya untuk membuka mulutnya.


“ Shirreo!!”


“ Aaaa…”


“ Ckkk..aku bisa melakukannya sendiri!” protesnya masih tak ingin memakan pizza yang ku berikan.

“ Kalau begitu makanlah dengan tanganmu sendiri, atau tidak aku yang akan memasukkan semua makanan ini ke dalam mulutmu!”


Dia melirikku kesal sambil terus menggerutu tak jelas, mungkin ia sedang memaki atau bahkan sedang menyumpahiku. “ Kau lihat? Aku memakannya, apa kau puas?” sengitnya sambil menunjukkan fettucini yang hendak ia suapkan ke dalam mulutnya.


Aku hanya terkekeh melihat tingkahnya sambil melanjutkan makanku. Cihh…sampai kapan gadis itu mempertahankan gengsinya? Apa seumur hidupnya ia akan selalu mempertahankan gengsinya yang menurutku terlampau konyol itu?. dia itu bertindak seolah dirinyalah yang harus membantu orang lain bukan orang lain yang membantu dirinya. Apa salahnya jika kita menerima bantuan dari orang lain? apa itu kelihatan begitu memalukan? Kurasa tidak. karena manusia hidup membutuhkan manusia lainnya kan? Tidak ada satupun manusia yang bisa mencukupi kebutuhannya seorang diri. 


Tunggu…apa saja yang kukatakan…bukankah itu semua adalah penjabaran betapa angkuhnya manusia bernama Huang Zitao? Cihh…tanpa sadar aku telah menyebutkan semua sifat-sifatku. Bukankah aku selalu merasa bahwa aku tak butuh bantuan orang lain? aku berpikir bahwa semua yang terjadi pada diriku adalah mutlak urusanku, tanpa membiarkan orang lain mengulurkan tangannya. Yah itulah aku.


“ Aku kenyang sekali..”


Aku kembali tersadar dari segala kebisuan yang dari tadi membelenggu, kini aku tercengang hebat saat semua makanan telah habis. Di depanku, gadis yang dari tadi menjunjung tinggi gengsinya itu, sekarang sedang menyenderkan badannya. Duduk malas sambil memegangi perutnya. Ku rasa ia kekenyangan.



“ Kau mau pulang sekarang?” ia membulatkan matanya dan tak lama menggangguk cepat.


Aku langsung memanggil seorang pelayan guna membayar semua tagihan dari makanan yang ku pesan, setelah selesai aku beranjak dari dudukku. Bersiap untuk pergi dari tempat ini. begitupun dengan Sora, yang tanpa diperintah langsung beranjak dan mengikuti langkahku.


“ Apa kau dijemput?” aku menoleh padanya.


“ Sepertinya tidak. Tuan Lee masih pergi bersama Soobin.” Jawabnya tak bersemangat.


“ Kalau begitu kajja! Kita pulang bersama!” ajakku seraya menarik lenganku. Tunggu… sudah berapa kali aku menarik lengannya hari ini? sepertinya lebih dari dua kali.


Kaki ini terus melangkah membawaku dan tentunya Sora menjauh bahkan benar-benar keluar dari mall tadi, sekarang kami sedang berjalan di trotoar jalan. “ Biasanya kau selalu diantar supirmu.” Ucap Sora.

“ Aku sedang ingin pergi sendiri. setiap hari aku diantar jemput saat pergi ke sekolah, apa hari liburpun aku harus diantar jemput? Itu membosankan.” Aku menjawab agak sedikit berteriak karena bisingnya suara lalu lintas sekarang ini. suara deru mesin mobil maupun motor sungguh mengganggu pendengaran.


“ Jadi tadi kau naik bus?” ia melirik ke tempatnya sekarang berada, yaph! Halte bus.

“ Begitulah.”


Tak lama, sebuah kendaraan besar yang dari tadi kunantikan bersama beberapa orang yang sudah menunggu di Halte pun datang. masih dengan menggenggam lengan kecil Sora, aku menuntunnya agar cepat naik ke dalam bus. Ku persilahkan ia agar naik terlebih dulu, dan setelah itu giliranku.


Suasana dalam bus yang tak begitu penuh memudahkanku untuk menemukan tempat duduk yang tepat. Seperti sebelumnya, aku menyuruh Sora duduk terlebih dulu, membiarkan ia duduk dekat dengan jendela.


“ Kupikir kau takut dengan suasana bus.” Aku menoleh ke arahnya yang sedang menatapku.

“ Aku memang punya kecemasan tersendiri pada keramaian, tapi keramaian yang mengusikku. Yah…seperti membuatku merasa terancam. Akupun tak bisa menjamin kalau phobiaku tak memiliki kesensitifan pada kondisi di dalam bus, maka dari itu, aku hanya menumpangi bus yang tak terlalu ramai.” Jelasku panjang. Sementara ia terus menganggukkan kepalanya, tapi kurasa ia belum puas, bisa ku tebak jika sebentar lagi ia akan kembali bertanya.


“ Jadi…kondisi di aula kemarin, membuatmu merasa terancam?” benar dugaanku, ia kembali bertanya.


“ Entah…yang jelas aku merasa ketakutan saat gadis-gadis itu berteriak histeris. Aku langsung keringat dingin, membuatku semakin takut.” Terangku sambil menatapnya yang juga sedang menatapku serius.

“ Pasti sangat berat jika dihadapkan dengan kondisi seperti itu.” komentarnya. Ia lantas memalingkan wajahnya ke arah jendela. Terdiam sambil menyaksikan kesibukan lalu lintas kota Seoul yang hingga kini tak kunjung surut.


Kami berdua tak mengucapkan apapun, membiarkan perjalanan terlalui dalam kebisuan. Tanpa terasa perjalanan telah berlangsung lama, membawa bus ini berhenti di perhentian selanjutnya. tepatnya di perhatian dimana aku dan Sora turun. “ Kajja.” Ucapku mengkomandoinya agar ia bangkit dari kursinya.




******





Sora POV




Kami berdua berjalan kaki memasuki jalan masuk menuju komplek rumahku. Sebenarnya aku sudah meminta Tao agar pulang saja, tidak usah mengantarku sampai rumah. Tapi sayangnya aku sedang memohon pada orang keras kepala, jadi sia-sia saja apa yang sudah kuucapkan.



“ Kau bisa pulang sekarang.” kini kami sudah berada tepat di depan rumahku, jadi tidak salah bukan kalau aku menyuruhnya pulang.


“ Kau ingin melihatku masuk dulu baru kau pulang?” tekanku agar dia cepat pergi dan kembali ke rumahnya. Tapi gelagat aneh malah ia perlihatkan, ia terus menatapku tanpa berucap sedikitpun.


“ Baiklah…aku masuk.” Seruku sembari mendorong pintu pagar rumahku.

“ Sora..” aku menoleh, membalik badanku supaya dapat melihat dirinya.

“ Jika kau tak berhasil membuatku berubah, itu sungguh bukan salahmu. Itu sepenuhnya salahku, jadi jangan paksakan dirimu.”

“ Tao..”

“ Aku pulang.”





******





Author POV




Hiruk pikuk kegiatan belajar mengajar di universitas Chung Ang kembali terlihat setelah satu jam sebelumnya telah dihabiskan untuk waktu istirahat. Kini para pelajar berbondong-bondong menuju kelas, tak berniat untuk terlambat sedikitpun. Tentu mereka tahu benar konsekuensi yang akan mereka terima jika mereka terlambat sampai ke kelasnya.


Di tengah-tengah ratusan bahkan ribuan pelajar yang sedang hilir mudik, terselip tiga gadis yang sedang melakukan hal serupa seperti yang lainnya. Mereka tak menyia-nyiakan waktu barang sedikitpun, kini tujuan mereka adalah ruang ekonomi.


Memanfaatkan waktu yang tersisa, tiga gadis itu berbicara sepuas mereka. karena jika sudah sampai di dalam kelas, belum tentu mereka bisa bicara selepas sekarang, malah yang ada mereka akan diteriaki dan diusir keluar oleh Park seosangnim. 


“ Tao…” panggil seorang gadis yang kini menghampiri sosok bernama Tao yang hampir saja masuk ke dalam kelasnya. Tapi terurung karena gadis bernama Maeri itu memanggilnya. Tao langsung membalik tubuhnya, memandang bingung Maeri yang tadi berlari untuk menghampiri dirinya.



“ Ada apa?” tanya Tao heran. Pasti ia heran, Maeri bukanlah orang yang sangat ia kenal, atau bisa dibilang hanya kenal karena keadaan saja, tapi gadis itu memanggilnya seperti ada keperluan yang sangat penting.


Melihat dari kejauhan apa yang terpampang di depan pintu ruang ekonomi, langkah tiga gadis itu memelan. Tapi tetap bergerak walaupun tak sesemangat tadi.


“ Igo!” Tao menatap bingung gadis di depannya yang sekarang malah mengulurkan dua batang cokelat untuknya.

“ Katanya cokelat bisa membuatmu lebih tenang. Ambilah!” tak ingin gadis itu salah paham, Tao langsung menerima cokelat itu. ia tersenyum lembut, “ Gomawo.” Ucapnya tulus membuat gadis di depannya tersipu malu.


“ Oh ya! Kau harus ingat, aku akan terus mendukungmu untuk tampil di pentas seni nanti. Fighting!” tutur gadis itu sambil mengepalkan tangannya di udara kemudian pergi membawa senyum bahagia. Tentu ia sangat senang bisa berinteraksi langsung dengan namja yang ia sukai.





******






Sora POV



Semua mata kuliah hari ini akhirnya usai juga, ah….sungguh tidak sabar untuk cepat sampai di rumah. Tadi saja, saat Park seosangnim menyudahi kuliahnya, aku langsung bergegas cepat seolah tak membiarkan sedetikpun terbuang percuma.


“ Menurutmu, apa hari ini Jong Dae akan datang?” tanya Nayoung. aku hanya mendesah pelan, kini minatku untuk pulang malah menyurut saat mengingat nama itu.


Aku tak menjawab dan tak ingin menjawab, aku memutuskan untuk terus berjalan tanpa mau menanggapi omongan teman-temanku.


“ Mungkin…soalnya sudah seminggu ini ia tidak datang.” jawab Hara ragu.


“ Kim Sora!”


“ Kim Sora!”




Aku membalik tubuhku dengan malas, saat seseorang meneriaki nama lengkapku. Setelah itu aku menemukan sosok pria yang sedang berlari kecil untuk menghampiriku. Nafasnya begitu tersengal, membuatnya harus membungkukkan badan dulu guna menormalkan sistem pernafasannya.


“ Kau habis dikerjar anjing?” aku melirik Cheonsa yang baru saja berujar semaunya. Gadis itu memang tak pernah berpikir serius dengan apa yang dikatakannya.

“ Sepertinya kau memiliki urusan penting dengan Sora.” timpal Ji Eun santai. Urusan? Urusan apa?.

“ Aigoo…kenapa belakangan ini Sora tak bisa pulang bersama kita? Pasti ada saja penghalangnya.” Ujar Nayoung bak sedang menyindir.

“ Hari ini aku memang ada urusan dengannya, kalian tidak keberatankan?”  aku menghela pelan, benar kata Nayoung, kenapa belakangan ini banyak sekali yang mengusik kehidupanku?.


“ Yah…tidak. selesaikanlah urusan kalian.” Jawab Hara bijak, tapi sama saja seperti mendorongku ke laut lepas.

“ Kalau begitu kami duluan. Sora…baik-baik bersama Tao.” Ujar Gyuri.

Setelah itu, semua temanku pergi meninggalkanku. Cihh..teman macam apa mereka?. kenapa mereka tidak pernah berusaha mencegah orang-orang yang ingin membawaku?. Menyebalkan. Beralih pada rasa kesalku terhadap teman-temanku, kini orang di depanku malah menarik lenganku. Persis seperti yang biasa ia lakukan jika sedang memaksaku.


Berhubung ini di kampus, tempat menimba ilmu, aku menurut saja ia mau membawaku kemana. Asal tidak mengajak ke neraka saja.



Ia membawaku menyusuri lorong-lorong yang menyambungkan bangunan satu dengan bangunan lainnya. Melewati berbagai ruangan, dari perpustakaan hingga laboratorium. Sesampainya di tempat yang ia maksud, aku sedikit menarik lenganku agar terlepas dari cengkramannya, namun tak bisa karena ia malah mempererat genggamannya.


“ Sebelum menunjukkannya pada banyak orang, kurasa aku harus berlatih dulu.” Jelasnya menjawab segala tanya dalam benakku. Kini tangannya tak lagi menggenggam lenganku, ia terus berjalan hingga ke tengah. Aku langsung berjalan ke pinggir lapangan, menyaksikannya dari tempat yang tak begitu dekat.


Tak banyak hal yang dapat kulakukan selain diam sambil terus memperhatikan dirinya yang belum juga bergeming. Sebenarnya bisa saja aku berteriak agar ia cepat melakukannya, tapi mengingat ia butuh banyak keyakinan, aku tak melakukannya.


Seolah diajak terhanyut dalam emosi yang bergejolak dalam hatinya, aku merasakan bagaimana perasaan tegang yang dirasakan Tao. Merasakan bagaimana itu perasaan harap-harap cemas. Duduk sendiri di kursi penonton menunggu Tao. Dan hatiku tergugah begitu ia membentuk sikap siap. Tatapannya yang pasti memulai seluruh pergerakkannya, dari mulai meninju, menendang, berguling, hingga berputar di udara. Sampai akhirnya ia menyelesaikan gerakkannya dengan kembali pada posisi siap.


Aku tersenyum sambil bernafas lega, kedua tangan ini langsung bergerak membuat suara-suara meriah. Ia menoleh ke arahku yang kini sedang berjalan menghampirinya. begitu banyak rasa yang tercampur dalam hatiku, rasanya aku ingin meledak sekarang juga.


“ Charanda.” Ucapku sedikit tertahan, mungkin jika aku tak punya kesadaran yang cukup, aku sudah berteriak histeris dan menumpahkan segala yang ada dipikiranku.


“ Aku yakin kau bisa tampil minggu nanti.” ujarku lagi. Kali ini ia tersenyum dan berjalan menghampiri tasnya yang berada di salah satu bangku penonton. Ia duduk kemudian membuka tasnya, mengeluarkan sebotol air mineral. Ia meneguk tetesan air yang mengalir dari botol miliknya, sepertinya ia sangat kehausan.


“ Igo!”


Aku diam, tak menerima cokelat yang baru saja ia sodorkan padaku. Alih-alih tak ingin menerima pemberiannya, aku mengangkat kepalaku dan menghujaminya dengan tatapan kesal.


“ Kau memberikan cokelat yang orang lain berikan untukmu kepadaku? Cihh…benar-benar tidak tahu terimakasih!” cibirku mengomentari tindakannya. Harusnya ia menghargai pemberian orang , bukan malah memberikannya pada orang lain.

“ Namanya Shin Maeri bukan orang lain.” ralatnya sambil berdiri seraya menyampirkan tasnya pada kedua bahunya.


“ Mau atau tidak? kebetulan ia memberiku dua, jadi tidak salahkan kalau aku membagi yang satunya pada orang lain?” tandasnya lagi berusaha agar ia tak terpojok.


“ Namaku Kim Sora bukan orang lain!” cetusku. Dengan secepat kilat ku ambil cokelat yang dari tadi ia sodorkan padaku, kemudian berjalan mendahuluinya.


Ku tatap nanar cokelat batang dalam genggamanku, rasanya ingin cepat-cepat kuhabisi benda ini, kemudian membuang bungkusnya ke tempat sampah. Aku memang menyukai cokelat dan akan selalu bersemangat jika menyantap penganan manis itu, tapi sekarang berbeda, aku ingin segera menghabiskannya agar aku tidak melihat benda itu lagi di muka bumi ini.


Baru aku merobek bungkus cokelat itu. “ Belakangan ini aku mendapat banyak kiriman cokelat, kalau kau mau aku bisa memberikannya untukmu.”ujarnya dengan nada yang amat sangat menjengkelkan. Ingat! amat sangat menjengkelkan.


“ Berapa banyak gadis bodoh yang bersedia menyisihkan uangnya untuk membelikanmu cokelat?” ketusku tak mempedulikan bagaimana ekspresi wajahnya.


“ Eumm…banyak. Maeri, Woori, Kihyun, Saera, Seujong, Sunyoung, Hyera, Sae Ah..hmmm..pokoknya masih banyak lagi. Kadang sehari aku bisa mendapatkan sepuluh cokelat, sisanya ada yang membawakanku bekal.” Tuturnya dengan bangga. Cihh…ia sedang berusaha untuk membuatku iri padanya? Jangan harap!.


“ Oh begitu, baguslah…setidaknya kau bisa menghemat uang sakumu.”





******




Author POV




Dua anak manusia itu terus bersiteru, ada saja yang mereka perdebatkan. Pertama masalah cokelat, dan sekarang malah membicarakan kadar intelektual masing-masing.


“ Kau bodoh atau idiot? Mereka semua menyukaimu.” Ujar Sora kesal, mungkin sudah tak asing lagi untuk Sora merasa kesal saat berada di sekitar Tao.


“ Aku tahu. Memangnya kenapa jika mereka menyukaiku? Apa aku harus mengencani mereka semua?” jawab Tao santai. Memancing kekesalan yang semakin menjadi pada benak Sora, namun gadis itu menahan dirinya. Membuatnya bungkam dengan menelan kekesalannya seorang diri.


Tanpa disadari oleh kedua orang itu, di depan mereka telah berdiri tiga orang pria yang tengah tersenyum sinis sambil menatap rendah ke arah mereka. tiga orang itu tak lain adalah tiga orang senior tengil sok berkuasa, Jaebum, Min Jun, dan Taesung.


“ Ckk..Ckk…aigoo..aigoo…rupanya dua anak sial tak punya etika ini sedang bersama. pantaslah…kalian cocok satu sama lain. sama-sama tidak punya sopan santun, dan mungkin sama-sama tidak punya otak.” Cibir Minjun sambil menggelangkan kepalanya.


Dua orang yang dimaksud, Tao dan Sora hanya diam dan terus melanjutkan pergerakan mereka tanpa ingin ambil pusing dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mereka melenggang seolah tak melihat keberadaan tiga orang itu.


“ Heii…selain tak beretika, ternyata kalian sombong ya?” kicau Taesung memagari jalan Sora dan Tao. Seperti sedang mencari perkara, tiga orang itu malah menghalang-halangi Tao dan Sora.


“ Kalian masih ingat dengan kami bukan?” kini Jaebum angkat bicara. Ia terlihat seperti seorang pria brengsek yang sedang berusaha mengancam rakyat kecil.


“ Oh ya…kalau tidak salah, kau akan tampil di acara besok. Benar begitu?” ucap MinJun sambil berlagak berpikir, kemudian ia tersenyum kecut. Seperti sedang mengecilkan Tao, sorot matanya seolah sedang berusaha menjatuhkan mental pria bernama lengkap Huang Zitao itu.


“ Kalau begitu sampai bertemu besok, anak manis. kita lihat seberapa hebat kemampuanmu. Apa kau akan kembali pingsan di tengah lapangan seperti waktu itu?”


“ Aisshh…sudahlah Taesung-aa, jangan mengganggu anak-anak ini lagi. Besok kita lihat saja, bukan begitu jagoan?” lerai Jaebum kemudian pergi berlalu diikuti dua dedengkotnya.



Rasa kesal, marah berkecamuk dalam relung Tao. Ia serasa baru mendapat tamparan keras dari tiga orang tadi. Sejujurnya ia ingin melampiaskan semua emosinya, tapi apa yang harus ia lakukan?. Haruskah ia mengatakan pada mereka, jika dirinya tak sepayah yang mereka katakan, atau ia harus mengatakan tenang saja, aku akan melakukan yang terbaik besok? Begitukah? Tapi apa jaminannya? Bahkan dirinya sendiri tak tahu apakah ia bisa melakukannya atau tidak.


“ Sudahlah Tao..jangan dihiraukan. Kau pasti bisa.”


Tao hanya diam, bahkan ia tak tahu mesti merespon Sora seperti apa. karena bohong jika ia mengatakan bahwa dirinya tak mengambil serius ucapan Jaebum dan kawan-kawannya tadi.




******




Tao POV




Aku termenung sambil terus memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi pada esok hari, salah satunya pingsan di tengah lapangan. Walau sebenarnya aku merasa sudah cukup mampu mengatasi rasa panikku, tapi tetap saja siapa yang bisa menjamin jika penampilanku besok akan berjalan dengan lancar?


Drrtdrtt



Pandanganku beralih pada ponsel yang terletak tak jauh dari tempatku berbaring. Ku raih benda kecil itu, kemudian membuka sebuah pesan yang baru saja masuk. Aku tersenyum saat membaca isi pesan itu.




From: Sora



Seburuk-buruknya orang di muka bumi ini adalah orang yang takut untuk mencoba. Maka seumur hidupnya ia akan terus dihantui rasa menyesal dan tidak berguna. Ku harap kau tidak seperti itu. percayalah pada dirimu sendiri, kau sudah berlatih dengan baik selama ini. cihh…ternyata kau latihan tanpa memberitahuku, kau malah membiarkan fans-fans mu itu yang lebih tahu. Ya sudah…itu saja. aku bingung ingin menuliskan apa lagi. Intinya kau harus percaya diri, ingat itu bodoh!.  


Tetap saja menghinaku, tapi…darimana dia tahu kalau aku berlatih selama ini?. yah..beberapa waktu belakangan ini, aku berlatih ditemani dengan Chanyeol dan Ki Hoon. Cuma karena Chanyeol bersikeras untuk menggunakan metode yang sebelumnya pernah digunakan Sora, maka jadilah setiap aku berlatih, banyak sekali gadis-gadis yang meneriaki namaku.



Sempat beberapa kali aku gagal karena suara mereka membuatku takut, namun lambat laun aku terbiasa. Bukankah pada esok hari yang menyaksikanku jauh lebih banyak? Dan pastinya suara teriakan yang ku dengar juga lebih kencang dari yang biasa ku dengar. 



Baiklah Huang Zitao…apapun yang akan terjadi besok itu mutlak pilihanmu. Jika kau ingin semua berjalan dengan lancar, maka kau harus berusaha sebaik mungkin, kau harus berjuang melawan rasa takutmu. Tapi jika kau ingin semua berakhir dengan tatapan prihatin, silahkan saja menyerah pada keadaan.





******





Author POV



Matahari telah terbit dari ufuk timur, menampakkan cahayanya yang biasa memberikan penerangan pada seluruh makhluk di muka bumi. Begitupun dengan sebuah kediaman yang biasa dihuni oleh empat orang yang terdiri dari ayah, ibu, anak dan seorang asisten rumah tangga, tapi tidak untuk beberapa bulan ini. beberapa bulan terakhir, penghuni rumah itu hanya berjumlah tiga orang. Seorang kepala keluarga yang menyandang status sebagai suami serta ayah itu sedang bertugas ke luar negeri, meninggalkan anak, istrinya dirumah.


Meski dengan jumlah penghuni yang tak bisa dibilang banyak terkadang rumah megah itu terasa begitu sepi, tapi tidak dengan hari ini. dua wanita dewasa sedang sibuk berlalu-lalang, mondar-mandir untuk memenuhi keperluan orang yang sama, yaitu putra semata wayang keluarga Huang.


“ Ma…aku bisa melakukannya sendiri.” keluh anak, ah tidak! usia dua puluh tahun seperti itu sudah tak bisa disebut sebagai anak-anak lagi. Lebih tepatnya seorang pria muda.



Seorang wanita yang biasa dipanggil Ma atau Mama langsung berbalik sambil menatap putranya dengan sungguh-sungguh. “ Mama tahu, tapi untuk hari ini biarkan mama dan nyonya Im yang mengerjakannya untukmu.” Tandas wanita berusia empat puluh tahun lebih itu.



Lagi-lagi pria muda itu hanya bisa menghela pasrah, kalau sudah begini ia hanya bisa diam dan mengikuti keinginan ibunya. Dari memilihkan sepatu yang cocok, baju, menyiapkan sarapan serta segelas susu bersamanya, tak lupa merapihkan baju yang dikenakan anaknya telah nyonya Fei lakukan.  setelah selesai merapihkan baju anaknya, wanita itu menatap sosok anaknya dari atas sampai ke bawah dengan bangga. “ Anakku memang tampan.” 



“ Baiklah…aku berangkat sekarang.” pamit Tao dengan sisa moodnya yang masih ada. Lagi-lagi ibunya menatap dirinya sambil tersenyum bahagia. “ Lakukanlah yang terbaik. Mama percaya kau pasti bisa.” Ujar sang ibu sambil mengelus wajah putranya.


“ Ini jangan lupa.” Seorang wanita paruh baya bergegas memberikan tas pada Tao. “ Gamsahamnida nyonya Im.” Ucap Tao sambil tersenyum ramah.


Setelah semuanya lengkap, Taopun keluar dari rumahnya dan segera masuk ke dalam mobil yang dari tadi sudah menunggunya.



“ Ah..tak terasa Tao kecil telah tumbuh jadi seorang pria tampan.” Gumam nyonya Im sembari menatapi kepergian bocah yang sejak kecil berada dalam pengasuhannya.


“ Benar…rasanya dia mirip sekali ayahnya.” Timpal nyonya Fei.






******  





At Chung Ang University




Menjelang detik-detik pembukaan acara, semua orang nampak begitu sibuk mempersiapkan penampilan masing-masing. Bahkan yang tidak tampilpun ikut sibuk serta panik sendiri, contohnya Sora dan beberapa temannya yang lain.


Gadis muda itu terus melirik ke bawah melalui kaca jendela kelasnya untuk memastikan kedatangan Tao. Tapi hingga kini sosok yang ia tunggu belum kunjung datang, sementara acara akan dimulai sebentar lagi.


“ Kau yakin dia akan datang?” tanya Hara.

“ Mungkin sebentar lagi.” Jawab Chanyeol singkat. Meski ia tak bisa menjamin jika Tao akan benar-benar datang , tapi setidaknya ia tak ingin mengatakan sesuatu yang bisa mengacaukan perasaan yang sudah kacau.



“ Tao datang!” suara pemberitahuan yang terdengar sangat histeris terdengar dari mulut Ki Hoon yang baru saja menampakkan dirinya di balik pintu. Semua orangpun langsung bangkit dan mencurahkan perhatian mereka ke arah pintu.


Tak lama sosok yang dari tadi ditunggupun tiba dengan penampilan yang keren serta menawan seperti biasanya. Sosok itu berjalan memasuki ruang ekonomi yang dijadikan teman-temannya sebagai ruang untuk menunggu dirinya. Helaan nafas lega mengalir, setidaknya satu ke-khawatiran mereka telah tuntas satu.

“ Kenapa lama sekali?” tanya Chanyeol yang kini sedang merangkul sosok Tao.

“ Hanya ada kendala sedikit, kenapa? Kalian takut aku tidak datang?”


Chanyeol hanya menggedikkan bahunya, kini pandangan Tao beralih pada seorang namja imut yang sedang duduk di atas salah satu meja dari sekian banyak meja di ruangan ini.  “ Kau membawa apa yang kupinta,kan?” tanya Tao.


“ Tenang saja. semua aman terkendali.” Jawab Ki Hoon dengan begitu percaya diri sambil menunjuk ke arah bambu panjang di sudut ruangan.

Kemudian suara bising terdengar, suara riuh seiring dengan suara pemandu acara yang juga terdengar. Acara sudah dimulai, kini semua mata langsung mengarah pada satu objek yang sama. Tao.


“ Kalian cepatlah berkumpul di lapangan. Aku akan ke sana saat giliranku tiba.” Ucap Tao.


Untung saja hari ini semua orang sedang dalam keadaan baik, jadi tidak perlu ada pertumpahan darah untuk sekedar membuat mereka bergegas ke lapangan. Tapi sebelum pergi meninggalkan Tao sendiri, Sora kembali menghampiri Tao.


“ Kau pasti bisa. Lakukanlah yang terbaik.” Ucap Sora dengan rasa gemetar dalam benaknya.

“ Iya aku tahu. Ibuku juga mengatakan hal yang sama tadi.” Balas Tao yang malah nampak begitu santai.

“ Menyebalkan.” Umpat Sora sebelum akhirnya gadis itu benar-benar keluar dari ruangan itu dan menyisakan Tao seorang diri di dalamnya.


Kini barulah perasaan panik itu terasa, saat ia benar-benar sendiri seolah sedang terjerembab dalam sebuah kebingungan seorang diri tanpa ada seorangpun yang bisa membantu. Hanya satu orang yang bisa membantunya kali ini, yaitu dirinya sendiri.


Pandangannya berpaling pada sebuah tongkat panjang, Toya, benda yang ia pinta dari Ki Hoon. bagai sedang memupuk keyakinannya, Tao menggenggami benda panjang itu dengan erat.




******




Tao POV



Setelah memutuskan untuk keluar dari kelas, aku segera berkumpul di tempat yang sama dengan para penampil lainnya. Tepatnya aku berada di tepi lepangan dekat pendopo ruang sastra. Dari sini aku bisa menyaksikan penampilan yang sedang berlangsung sekarang, tak lama MC-pun datang menginstruksikan penonton untuk memberikan tepuk tangan untuk penampilan tadi. Tepuk yang meriah pun terdengar seiring dengan MC yang berancang-ancang untuk memanggil penampilan selanjutnya. semua penampil termasuk aku pasti merasa gugup dan cemas, biar bagaimanapun kami tidak dipanggil secara berurutan, jadi tidak ada yang tahu sekarang giliran siapa dan nanti giliran siapa.


Suara tepuk tangan yang tadi begitu riuh kini mulai menyurut, memberi kesempatan untuk MC memulai ucapannya. “ Baiklah…masih perlu dilanjut? Keurae…tanpa menunggu lama kita sambut , ini dia penampilan bocah asal Negeri Jet Li, Huang Zitao.”



Jlleebbb



Rasa gemetar langsung mengintrupsi seluruh raga ini, membuatku berniat untuk berlari dan meninggalkan tempat ini. tapi salah seorang panitia acara mendatangiku, memintaku agar segera tampil. Dengan berat hati ku langkahkan kaki ini memasuki lapangan.


Tepuk tangan meriah terdengar, ada juga yang bersorak, tak begitu jelas antara menyemangati dan mencaciku. Semua terdengar sama untukku, sama-sama membuat seluruh sarafku menegang. Kini keringat dingin mulai membanjiri kening serta badanku. Ayolah…jangan sekarang, kumohon.


Aku tertunduk lemas, menstabilkan udara yang masuk ke dalam rongga paru-paruku. Tapi tanganku melemas, hingga toya yang daritadi ku genggam erat, jatuh begitu saja. memecah keheningan, serta mengawali segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.



TREEKTEKTEK






******




Sora POV




TREEKTEKTEK



Bambu panjang yang ia pegang kini terlepas dari genggamannya, menciptakan suara mencekam yang tentunya menghantui batinku. Kini semua orang yang menonton terus mendesis, mempertanyakan kondisi Tao. Hingga kini ia belum memulai penampilannya.




Rasa resah serta gelisah benar-benar menyiksa perasaanku kini aku hanya bisa berharap agar Tao dapat menyelesaikan semuanya. Tapi melihat bagaimana keadaannya saat ini, aku cuma bisa berharap agar tidak ada hal buruk yang terjadi padanya. 



“ Bagaimana ini?” desis orang-orang di sebelahku, bahkan bisa ku dengar jelas bagaimana Chanyeol menggumam seolah sedang mengirimkan pesan telepati pada Tao.


“ Sora..” aku menoleh pada Nayoung yang kini tengah menggenggami lenganku, ia terlihat panik sama seperti diriku. “ Entahlah…” desahku tak ingin banyak bicara.


Pandanganku kembali berfokus pada sosok di tengah lapangan, ia masih menunduk. Namun langkah gontainya terlihat, menjadi awal pergerakkannya. Tapi…apa, apa ia akan pingsan seperti waktu itu? jujur saja keadaannya saat ini sama persis seperti saat ia pingsan di tengah lapangan.


Dari bangku ini, hanya bisa berharap cemas saja aku saat ini, ditambah dengan suara backsound khas musik pertarungan pendekar china yang semakin membuat diriku resah.


Kaki-kaki panjangnya terus bergerak, menapaki aspal lapangan dengan tidak pasti seperti sedang berputar. Aigoo…apa kau mulai merasa pusing, Tao?. Tapi langkahnya itu berhenti saat tubuhnya membentuk posisi siap dalam kungfu, hanya bedanya ia tidak terlihat seperti orang waras. Tubuhnya tak menentu, seperti orang limbung. Bergerak ke sana kemari dengan posisi tangan kiri di depan dan tangan kanan terletak dekat perut.


Suara backsound semakin jelas terdengar seirama dengan gerak langkahnya yang tak beraturan, hingga ada sebuah bunyi gong, ia pun langsung meloncat kemudian kembali menapak dengan posisi kaki melebar dan tubuh sedikit rendah.


Tiba-tiba ia berguling kemudian kembali seperti awal dan berguling lagi, begitupun seterusnya. Hingga akhirnya ia berusaha untuk berdiri, ia melangkah tak karuan. Apakah ini yang dimaksud jurus dewa mabuk?.


Gerakan mengejutkan kembali ia tunjukan saat ia melakukan gerakan seperti meninju dan menangkis pukulan, ia terlihat begitu lihai seolah memang ada musuh di depannya. Ia kembali berguling, kemudian kakinya berputar. Ia pun bangkit dengan kondisi yang masih limbung, ia mengambil tongkat bambu miliknya.


Ia menggenggam erat benda panjang itu kemudian kembali merendahkan posisi tubuhnya dengan kaki kanan sedikit menekuk dan kaki kiri dibiarkan lurus. Tanpa kuduga sebelumnya ia berputar di udara, persis seperti apa yang pernah diperlihatkannya padaku. Dengan cekatan ia memutar-mutar bambu itu dengan satu tangan, kemudian menggerakkannya seolah sedang memukul seseorang. Lanjut pada tendangan, kemudian memukul, berputar dan akhirnya ia terjatuh, terjatuh dalam keadaan split. Tentu bukan jatuh dalam keadaan pingsan, namun jatuh dalam posisi mengagumkan. 


Suara decak kagum langsung berkumandang indah menutup penampilan memukaunya, akupun ikut terlarut dalam euphoria yang sedang berlangsung. Aku bernafas lega, sambil terus menepukkan kedua tanganku. Tak lama, sosok itu berdiri kemudian membungkuk, memberi penghormatan, ia langsung meninggalkan lapangan tanpa lupa membawa serta bambunya.





******





Tao POV




Ku tatap baik-baik pantulan diriku dalam cermin, aku tersenyum senang dan puas. Akhirnya semua bisa terselesaikan dengan baik, meski awalnya aku hampir gagal. Yah…tadinya aku ingin menyerah saja, membiarkan diriku jatuh tanpa melakukan apapun. Tapi tiba-tiba pesan singkat yang dikirimkan Sora semalam melintas dalam pikiranku, belum lagi aku teringat wajah-wajah orang yang selama ini membantuku. Di samping semua itu, aku ingin mengakhiri semuanya, mengakhiri rasa takut tak beralasan yang ku miliki ini.


Segera kututup keran air yang tadinya kubuka untuk mencuci tangan serta membasahi wajahku. Aku langsung bergegas meninggalkan toilet, tapi aku tersentak kaget. Bagaimana tidak kaget? Baru saja aku keluar dari toilet, tiba-tiba ada suara melengking yang menyerukan namaku. “ TAO!!” teriak gadis itu heboh, membuatku hampir jantungan.



Ia terlihat begitu bersemangat sampai aku sendiri merasa tingkahnya itu sedikit mengerikan. Ia menguncang-guncang tubuhku sambil berteriak senang, mengucapkan apa saja yang membuatnya puas. “ Kau sudah melakukan yang terbaik. Bahkan itu lebih baik dari yang pernah kau tunjukan saat latihan.”


Aku hanya tersenyum kaku, kaku atau kikuk ya? Mungkin keduanya. “ Gomawo…ini juga berkat bantuanmu.” Balasku, membuat senyumnya kembali melebar.


Tapi di sela-sela gadis ini berkicau, mataku tak sengaja menangkap sosok yang hendak menghampiriku hanya ia tak sadar kalau aku melihat dirinya. “ Tao…johaeyo.” Aku melongo hebat saat tiba-tiba saja gadis ini mencipum pipiku. dan sialnya ia langsung pergi tanpa meminta maaf terlebih dulu. Aku langsung memegangi pipi kiriku, kemudian menggosoknya dengan kasar, berharap jejak bibir gadis tadi menghilang.






******





Author POV



“ Tao…johaeyo.”



Mata gadis itu melebar saat sosok pria di depannya mendapatkan sebuah kecupan dari gadis di hadapannya. Dengan perasaan tak menentu ia langsung meninggalkan tempat tadi dan terus menyendiri di taman sekolah. Duduk seorang diri dengan pikiran yang terus berubah-ubah.


“ Kau menyukai Tao?” sontak gadis itu, Sora,  langsung menoleh ke asal suara. Ia kaget bukan main saat mendapati sosok Jong Dae yang telah duduk di sampingnya. Pria itu tak seperti biasanya, kini gimik wajahnya begitu serius, membuatnya sulit untuk ditebak.

“ Jong Dae sejak kapan kau…”


“ Dari tadi aku mengikutimu.” Selak pria itu kembali menunjukkan dirinya seperti biasa, tersenyum seolah tidak memiliki beban atau sakit dalam hidupnya. Tanpa menunggu disuruh, pria itu langsung mengambil tempat di samping Sora, duduk dengan posisi menyerong menghadap gadis di sebelahnya.



“ Kau belum menjawabku, apa kau menyukai Tao?” Sora kembali tertunduk, sudah dua orang yang menanyakan hal serupa padanya. Pertama Soobin dan kedua Jong Dae.

Tak tahu harus menjawab bagaimana, gadis yang rambut gelombangnya sedang beterbangan karena tertiup angin, diam seribu bahasa. “ Kalau kau tidak menyukainya, kenapa berada disini? Harusnya kau tetap menghampirinya sekalipun gadis tadi menciumnya.” Kini ia semakin terpojok, terpojok oleh sebuah fakta yang dari tadi ia pertanyakan.


“ Bisakah berhenti menanyakan hal itu? beralihlah pada topik yang lebih menyenangkan.” Ujar gadis itu datar. Tapi pria di sebelahnya terus tersenyum, tapi kali ini senyumnya malah mengklamufasekan kondisi hatinya yang sedang terluka. Ia sedang menelan kenyataan pahit yang jelas-jelas sudah ia ketahui, sekalipun Sora tak menjawab pertanyaannya.


“ Tidak. aku butuh kepastian. Aku memang tak pernah memintamu untuk menyukaiku, tapi aku butuh kejelasan.” Jawab Jong Dae yang terdengar melirih.


Sora memejamkan matanya sembari menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Ia menoleh pada pria di sebelahnya yang kini sedang tertunduk lemas. “ Jong Dae-aa..”


“ Aku baik-baik saja. Sora-aa, kau menyukainya. Akui itu, setidaknya kau harus jujur pada dirimu sendiri.” selak pria baik itu sambil mengulas senyumnya. Melihat senyum Jong Dae, hati Sora seolah teriris. Gadis itu merasa seperti gadis jahat yang tidak tahu diri. Bagaimana bisa ia menyia-nyiakan pria sebaik Jong Dae?  Membuat pria itu terus berusaha dan menunggu agar ia bisa membuka hatinya. Tapi yang terjadi, sekarang malah jauh dari perkiraan. Hatinya sama sekali tak bisa terbuka, meskipun terbuka, itupun bukan untuk Jong Dae.


“ Kau..” desis Sora tertahan, gadis itu mati-matian sedang menahan airmatanya.


“ Hhh…bukankah sudah kubilang, kalau aku baik-baik saja. aku hanya perlu waktu, kemudian aku akan kembali seperti biasanya. Aku jamin itu.” lagi dan lagi pria itu mengumbar senyumnya, meski perih dalam hatinya terasa begitu menyakitkan.


“ Bisakah kau tinggalkan aku sendiri? aku ingin menenangkan diriku sejenak.” Pinta Jong Dae, namun tatapan lirih Sora menyiratkan betapa gadis itu enggan untuk angkat kaki dari tempat itu. “ Jong Dae-aa…”


“ Percaya padaku. Aku hanya butuh sedikit waktu.” Ujar Jong Dae meyakinkan. Tak lama gadis itu beranjak dari kursinya dengan berat hati. Kini runtuh sudah pertahanannya. Airmata yang dari tadi coba ia bendung kini mengalir deras membasahi pipinya. Ia masih belum bergeming, ia terus memandangi sosok Jong Dae yang sedang terduduk di bangku panjang.

“ Jong Dae-aa…”

“ Sora-aa, kenapa kau menangis? Aku akan baik-baik saja.”

“ Apa kita masih bisa berteman?” tanya Sora perlahan. Suaranya terdengar lemah.

“ Harusnya aku yang bertanya seperti itu.” Jong Dae tersenyum, iapun bangkit dari duduknya.


Tak sedikitpun senyumnya pupus, ia terus tersenyum meski faktanya hatinya telah hancur. “ Tentu…kita masih bisa berteman.” Jong Dae mengusap airmata Sora dengan kedua ibu jarinya, lalu menatap gadis itu dengan tegar.


“ Sekarang pergilah.” Ujar Jong Dae. Berat, namun itulah yang diinginkan oleh Jong Dae. Dengan amat terpaksa Sora mengangkat kakinya pergi dari tempat itu. setelah gadis itu tak terlihat, Jong Dae menjatuhkan tubuhnya ke atas bangku. Ia tertunduk lemas, dengan tubuh yang gemetar akibat suasana hatinya yang begitu rumit. Rasanya sakit, hingga airmata yang dari tadi ia bendung langsung mengalir deras membasahi wajahnya. Tangannya mengepal, menahan rasa sesak yang sedang ia rasakan.


“ Berhentilah menangis. Bukankah kau bilang kau baik-baik saja? kau hanya butuh sedikit waktu, bukan?” ucap seorang gadis yang kini berdiri di depan Jong Dae. Pria itu hanya bisa menelan rasa sakitnya, meski sebenarnya ia membutuhkan sebuah sandaran saat ini.




******




Tao POV




Aku setengah berlari memasuki ruang ekonomi, ruang tunggu yang digunakan oleh teman-temanku. disana terlihat Chanyeol, Ki Hoon, Hara, Cheonsa, dan Nayoung. Aku tak menemukan sosok Ji Eun, Gyuri maupun Sora. aku langsung menghampiri mereka yang baru menyadari kedatanganku.



“ Sora eodisseo?”

“ Molla…setelah pentas selesai, dia mencarimu. Ah…atau mungkin dia sedang pergi bersama Jong Dae, tadi Jong Dae juga pergi mencari Sora.” Jawab Chanyeol sembari bangkit dari duduknya. kini semua wajah nampak begitu serius. “ Aku akan mencarinya.” Langsung ku kenakan tas punggung milikku, kemudian keluar dari tempat itu.


Pandanganku terus mengedar, berusaha mencari sosok Sora. Jangan bilang kalau kali ini dia pergi lagi bersama pria itu. tidak bisakah ia menolak ajakan pria itu? sebenarnya sedekat apa hubungan yang terjalin antara mereka berdua? Aishh…kenapa aku begini?.


Rasanya sudah semua tempat ku datangi, tapi kenapa aku tak kunjung menemukannya? Benarkah ia sedang bersama Jong Dae?. Aku berhenti sejenak, mengatur nafasku yang mulai tersengal. Aku kembali berjalan saat dirasa nafasku sudah kembali normal. Tadi…sebelum Kihyun mencium pipiku, aku melihat jelas jika Sora berada tak jauh dari tempat kuberada, tapi setelah itu ia sudah tak terlihat lagi. Pasti ia melihatnya, pasti. Dan tujuanku mencarinya adalah untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Meski sebenarnya ini tak penting untuknya, tapi ini sangat penting untukku. Aku tidak ingin dia salah paham. 


Mataku menyipit memperjelas bayangan yang kulihat di depan. bukan bayangan, lebih tepatnya sosok manusia di depanku. Sora. benar itu dia. Dia berjalan begitu pelan, hingga terlihat seperti siput.


“ Sora.” aku berjalan menghampirinya, sambil meneriaki namanya. “ Sora.” ia tetap tak berbalik, malah terus berjalan seolah tak mendengar apapun.


“ Sora.” aku langsung meraih lengannya, membuat tubuhnya berbalik.


Aku terkejut ketika melihat wajahnya yang basah dan matanya begitu sembab. Dia terlihat begitu kacau, seperti habis menangis.


“ Kenapa? Kenapa kau menangis?” tanyaku mendesak, tapi ia hanya diam tak membuka mulutnya.

“ Tadi kau bertemu dengan Jong Dae?” ia langsung mengangkat kepalanya, matanya mulai menatapku dengan lirih. Namun setelah itu ia kembali tertunduk.

“ Apa yang telah dia lakukan? Kenapa kau menangis?” bukannya menjawab, ia malah meronta agar aku melepaskan lengannya.


Hampir saja ia pergi jika aku tak menariknya kembali. Ia menatapku dengan nanar.  “ Tak bisakah kau tak membuatku harus memaksamu dulu agar kau mau mendengarkanku?” ucapku setengah berteriak, entah kenapa aku jadi kesal.


“ Kalau begitu katakan. Katakan yang ingin kau katakan.” Tandasnya dengan tegas, tanpa berteriak.

“ Tapi tidak di sini.” Aku menuntunnya agar ia mengikuti kemana aku pergi.





******





Aku menyuruh tuan Kang agar pulang menggunakan transportasi umum, dan membiarkan aku yang mengemudikan mobil. Awalnya Sora sempat berontak, menurutnya tidak seharusnya aku menyuruh tuan Kang pulang. Tapi aku tak mendengarkannya, semua berjalan sesuai keinginanku. Ia tak banyak bicara sepanjang perjalanan, ia hanya diam dan menundukkan kepalanya.


Ia menatapku saat aku membukakan pintu untuknya. “ Turun.” Sesuai perintahku, ia akhirnya turun. Dan berjalan mendahuluiku yang sedang menutup pintu mobil.


“ Cepat katakan. Jangan buang waktuku.”

“ Cihh…jadi kau merasa aku telah membuang waktumu? Terus apa yang selama ini kau lakukan bersama Jong Dae? Pergi berkencan setelah pulang sekolah, apa itu tidak membuang waktu?”


“ Terserah. Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan.”  Aku memalingkan wajahku. Jelas-jelas aku merasa kesal dengan tingkahnya. Kenapa tingkahnya mengingatkanku pada tingkahnya dulu.


“ Sora..”

“ Aku katakan tidak. jadi tidak, maaf Tao.” Ujarnya dingin.

“ Tapi aku ingin kau membantuku.”

“ Maaf aku tidak bisa. Kau cari orang lain saja yang bersedia membantumu.” Tandasnya kemudian pergi tanpa membiarkan Tao kecil angkat bicara.


“ Kau menyukainya? Kau menyukai Jong Dae? Sehingga kau merasa lebih senang pergi bersamanya daripada bersamaku?” ia kembali menatapku dengan nanar. Tapi aku tidak peduli, jika ucapanku tidak benar, seharusnya ia membantah bukannya marah.

“ Terserah kau saja.” ia kemudian berlalu.
“ Berhenti pergi bersamanya. Aku tidak menyukainya. Kau tidak boleh bersamanya.” Teriakku lantang hingga aku terengah.


“ Johaeyo…”


“ Kim Sora! kau tuli? Kau mendengarku kan? Johaeyo, neomu johaeyo!.” Teriakku dengan menggebu berharap kali ini ia berbalik arah kemudian berjalan menghampiriku. Tapi tidak sama sekali, jangankan berbalik, berhenti saja tidak.



“ Baiklah..kalau kau memang menyukai Jong Dae. Kau bebas pergi bersamanya kapanpun kau mau.” Ujarku lagi.


“ Bisakah kau mengatakannya lain kali?” aku mengerinyit heran. Saat suaranya tiba-tiba terdengar begitu angkuh, tapi terasa sangat lemah.


Ia berbalik menghadapku. “ Kenapa kau harus mengatakannya sekarang?” kali ini aku semakin tak mengerti dengan maksudnya.


“ Hatiku sedang rumit, perasaan sedang sangat kacau. Tapi kenapa kau malah membuatnya semakin rumit?”


“ Sora-aa…”


“ Bisakah kita pulang sekarang, aku mohon. Untuk saat ini saja, dengarkan keinginanku.” Pintanya yang langsung ku laksanakan.




******





Sora POV




Seminggu sudah aku merasakan kegamangan ini berlarut-larut tanpa membiarkannya selesai dan menuntaskan segala gundah dalam hatiku. Seminggu pula aku tak berinteraksi dengannya, tentu kalian mengerti siapa yang sedang kumaksud. Sepanjang hari berlalu, setiap waktuku yang terbuang di bangku perkuliahan mengkondisikan diriku untuk terus bertemu dengannya, meski aku sudah berusaha keras untuk menghindar darinya. Tapi tetap, aku tetap bertemu dengannya. Meski setiap kali bertemu kami bertingkah seolah tak mengenal satu sama lain.


Dan tak ketinggalan, seminggu tanpa kabar dari Jong Dae. Anak itu seperti menghilang tanpa jejak, sudah berulang kali aku mengiriminya pesan tapi tak satupun yang mendapat balasan darinya. Apa ia marah padaku?.


“ Noona..kelihatannya kau sangat murung.” Kicau manusia kecil yang dari tadi tak berhenti bicara. Aku menatapnya sebal yang malah dibalas dengan tatapan berdosa milknya. “ Ji Hoon-aa bisakah kau diam? Aku sedang tidak ingin diganggu.”




“ Bicara terus Ji Hoon! memang apa haknya menyuruhmu untuk diam? Itu namanya merampas hak bicaramu.” Aku mendengus kesal saat suara menyebalkan yang tak ku harapkan malah terdengar. Siapa lagi kalau bukan Kim Soobin?


Setelah itu suara berisik Ji Hoon kembali terngiang di telingaku, ckk…sepertinya kau sudah puas Soobin.


“ Soobin onnie!!! Suamimu datang, bahkan datang bersama ibunya!” aku tak begitu mempedulikan sosok yang baru saja berteriak tadi, suasana rusuh pun terjadi di kamarku. Setelah ucapan Soyeon yang sangat fenomenal tadi, Soobin langsung beranjak dari tempatnya dan dengan cepatnya keluar dari kamarku.



Sekarang keluar sudah satu pengganggu hidupku, hanya masih tersisa satu. Si jagoan kecil yang dari tadi meracau sesuka hatinya. “ Noona...kenapa tak ikut keluar juga?”


“ Daripada aku yang keluar lebih baik kau saja yang keluar.” 



JEBLAKKK





Aku hanya bisa mengelus dada, menenangkan hatiku yang kesal setelah pintu kamarku dihempas dengan begitu kasar.



“ Sora onnie!! Calon suamimu ada di bawah!” aku menatap malas Soobin yang tengah berdiri di depan pintu. Ckk..ternyata gadis itu yang membuka pintu. Kenapa tak sekalian saja ia hancurkan pintu kamarku?.


“ Onnie…cepat! Kau tak ingin melewati kejadian penting ini bukan?” aku mengerang kesal. Kenapa orang gila di rumahku semakin banyak? Setelah Soyeon, kenapa Soobin juga begitu?. Kenapa dua gadis yang bahkan belum tahu benar arti menikah, terus saja mengungkit masalah suami?,


“ Sudahlah Soobin, aku sedang malas bermain. Besok saja.” aku kembali membaringkan tubuhku, tapi  helaan nafas kecewa terlanjur keluar saat kedua tanganku ditarik paksa.


“ Wae geurae? Kenapa kalian tak senang melihatku senang sedikit sih? Untuk hari ini saja.” pintaku dengan nada memohon.


“ Tidak bisa. Lebih baik kau menderita hari ini, daripada kau menyesal seumur hidupmu.”

Aku hanya bisa pasrah sekarang, sekujur tubuhku telah dikendalikan tiga bocah tengil yang entah sejak kapan menyandang status sebagai adikku. Mereka menarik kedua lenganku serta mendorong tubuhku.


“ Sekarang apa?” Tanyaku pada mereka yang sekarang berhenti dan malah merunduk, di dekat tiang pembatas dekat celah yang memungkinkanku untuk melihat kondisi di lantai bawah.


“ Ssstt..lihat sini!” mau tak mau akupun ikut bergabung dengan tingkah kekanakan mereka. mengawasi ruang tamu dari tempat ini.

“ Bukankah itu…”

“ Tao oppa.” Mulutku terkatup, mataku langsung membulat. Entah kenapa aku jadi gemetar, sensasi aneh menguasai tubuhku. untuk apa ia datang ke sini?


Aku langsung merapat pada tiga bocah yang masih bertingkah sebagai agen SPY itu, “ Katakan padaku, apa yang sebenarnya Tao lakukan disini?”


“ Entahlah yang jelas dari tadi appa, eomma, Fei ahjumma dan Tao oppa kelihatan begitu serius. Bahkan tadi appa hampir memarahi Tao oppa, tapi aku tidak tahu alasannya.” Jelas Soyeon pelan. “ Makanya kita dengarkan saja.” aku mengangguki usul Soobin, dan bersatu dengan mereka untuk menguping pembicaraan orang di bawah.


“ Sejak kapan?” suara berat khas appa terdengar, menciptakan suasana mencekam.
“ Aku tidak tahu kapan pastinya ahjussi.” Kini suara Tao bisa ku dengar. Kenapa mereka semua terdengar begitu serius?




Suasanapun hening, tak terdengar lagi suara orang berbicara. Aigoo…sebenarnya ada apa? kenapa keadaan begitu hening dan mencekam datang secara bergantian?.


“ Ahahahah….anakmu sangat lucu Fei.” Seru appa dengan suara tawanya yang menggelegar. Tiba-tiba keheningan pecah begitu saja saat suara tawa appa terdengar keras. Aisshh..ada apa sih sebenarnya?.


“ Aku sudah menduganya sejak awal. Kenapa bisa seperti itu?” kini berganti suara Fei ahjumma yang ikut tertawa dan menambah volume tawa yang masuk ke dalam gendang telingaku. Aigoo…ada apa dengan orang-orang dewasa di bawah? Apa mereka gila mendadak?.


“ Soyeon! Soyeon!” suara eomma berkumandang menyerukan nama Soyeon. aku langsung melirik Soyeon. “ Palli!” suruh Soobin.


Pandanganku langsung terarah pada orang-orang di bawah terlebih saat Soyeon berada di tengah-tengah sana. Aku melihat eomma memerintahkan sesuatu pada Soyeon, tak lama anak itu kembali naik ke atas dengan terengah. Kami semua menatapnya dengan penasaran. “ Kalian semua dipanggil eomma ke bawah.” Ucapnya tak beraturan.



Semua? Aku juga? Tapi…aku sedang tidak ingin bertemu Tao. Aigoo…kenapa harus seperti ini?.


“ Aku ingin tidur, bilang saja pada eomma kalau onnie sudah tidur, arra?”


“ Yak! Tidak bisa begitu! Kita semua dipanggil berarti semuanya juga harus turun. Kajja!” tak ada pilihan lain selain menurut, tanganku sudah terlanjur di tarik Soobin. Jika aku meronta mungkin aku akan jatuh terguling.


Pandangan sumringah, -tapi terlihat aneh untukku, menyambut kami berempat saat sampai di bawahnya. Ckk…kenapa hawanya jadi tidak enak begini?. Sangat aneh dan membuatku gugup?. Langsung kami berempat mendekat pada sofa tempat appa dan eomma duduk. Sekali lagi, kenapa hawanya semakin tidak enak?.


Dan dengan begini aku bisa melihat jelas bagaimana rupa Fei ahjumma dan tentunya orang di sebelahnya. Ia menatapku dengan acuh tak acuk seolah tidak mengenalku. Oh…rupanya satu minggu telah merubahnya jadi tak mengenalku? Baik kalau begitu, aku juga bisa bertingkah seperti itu.


“ Baiklah…semuanya sudah di sini. Jadi semua bisa mendengarkan keputusanku. Aku…aku mengizinkannya.” Ucap appa. Rona bahagia langsung menghiasi wajah Fei ahjumma, senyum kecil juga terpampang pada wajah eomma dan appa.


Aisshh….adakah seseorang yang bersedia menjelaskan maksud dari semua ini? jujur aku sangat bingung dengan mereka semua.


“ Ayo katakan, aku sudah mengizinkanya.”


Taopun berdiri dari duduknya, pandangan matanya tak menentu. Sebenarnya apa yang ingin ia lakukan?.  Berulang kali ia berdehem pelan, kemudian menundukkan kepalanya.


“ Sss…aisshh…” dia mengerang kesal saat ucapannya tak bisa terlontar dengan baik.

“ Dengar! Aku menyukaimu, aku tahu kau juga menyukaiku.” Aku terhenyak diam mencerna apa yang baru saja ku dengar.


“ Sora-aa, kau maukan menerima Tao?” aku semakin tersentak saat eomma malah menanyaiku dengan pertanyaan semacam itu.


“ Eomma…sebenarnya..”


“ Ia ingin kau jadi kekasihnya.” Selak appa sambil tersenyum jahil, kenapa appa-ku berubah begini?.


“ Aku tidak bisa menolak bukan?  jadi terserah saja.” tuturku menutupi segala rasa yang bercampur dalam hatiku. Semua orang sekarang menatapku membuatku semakin gugup, oh bisakah aku menghilang sekarang?.


“ Ah…aku….. Eomma, appa, ahjumma, aku permisi tidur lebih dulu. Annyeong..” aku membungkuk, kemudian langsung melesat menaiki setiap anak tangga.




******





Two days later




Aku terus menutup telinga kanan kiriku karena tak ingin mendengar godaan dari penghuni rumah. Mereka selalu mengungkit masalah yang sama, yaitu Tao. Oh ya..bicara tentang makhluk itu, ia sekarang malah menjadi diam, saat bertemupun dia hanya menyapa teman-temanku. sedangkan aku dibiarkan begitu saja. di satu sisi keluargaku terus menggodaku, tapi di sisi lain aku tak merasa jika aku dan Tao berpacaran. Aishh…rasanya janggal sekali menyebutnya seperti itu.


Bosan sekali, biasanya jika pulang ada saja suara berisik teman-temanku, segala macam hal mereka bicarakan. Tapi sekarang, khususnya hari ini, aku tak bisa pulang bersama mereka karena aku mendapat jam tambahan bersama beberapa murid lainnya. Menyebalkan sekali. Lihatlah…area kampus kini begitu sepi, hanya beberapa orang saja yang masih tinggal.


“ Akhirnya kau keluar juga.” Aku berjengit kaget ketika menyadari sosok di depanku yang tengah bersandar di badan mobilnya.


“ Cepat masuk! Aku lelah menunggumu dari tadi.”


Setelah selesai mengomel, ia kemudian masuk ke dalam mobilnya.



TIIN..




“ Sampai kapan mau berdiri disitu? Cepat masuk!” teriaknya melalui celah jendela mobilnya. Terpaksa, aku menyeret kaki ini kemudian masuk ke dalam mobilnya. Tanpa banyak bicara, ia langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sesekali aku meliriknya yang begitu fokus dengan jalan di depan, ia sama sekali tak bicara. Apa ia marah? Tapi marah kenapa? Dasar aneh.



Suasana terus berlangsung seperti ini, membosankan dan menyebalkan. Setelah perjalanan yang kami tempuh, dari macet hingga lalu lintas lancar, tak ada sepatah katapun yang terucap darinya. Sebenarnya aku mau saja mengajaknya bicara, tapi melihat bagaimana raut wajahnya sekarang, membuatku harus membuang niat itu jauh-jauh.






******





Author POV




“ Kenapa ke sini?” tanya Sora bingung. Sepanjang pintu masuk sampai sudah masuk ke dalam restaurant hanya itu yang ia tanyakan. Jelas semua orang tahu tujuan datang ke restaurant, apalagi kalau bukan untuk mengisi perut yang lapar.


“ Aku lapar.” Jawab Tao yang sudah duduk lebih dulu, Sorapun akhirnya duduk di meja yang sama dengan posisi berhadapan-hadapan dengan Tao.



Seorang pelayan datang membawa buku menu dan memberikannya pada dua orang itu. Tao mengambil satu dari dua buku yang ada, kemudian membukanya dan membaliknya sampai ia menemukan makanan yang ia inginkan. Sementara Tao masih serius dengan buku menunya, Sora malah sedang serius memperhatikan orang di depannya. Kalau boleh jujur, gadis itu juga lapar, tapi masalahnya apa ia juga dibolehkan untuk memesan?.



“ Hanya itu?” ulang sang pelayan setelah Tao menyebutkan pesanannya. 

“ Yak! Kau mau pesan apa?” seolah baru tersadar dari lamunannya, Sora bergerak gugup.


“ Memangnya aku juga boleh memesan?” Tanya Sora dengan begitu polos, tapi sayangnya Tao sekarang sedang tak ingin bercanda. Jadi ia sama sekali tak menanggapi Sora dengan baik. “ Terserah kau sajalah.” Desis Tao.


“ Kalau begitu, aku pesan yang sama dengannya ya?” sang pelayanpun mengangguk kemudian memberesi dua buku menu yang tergeletak di meja Sora. setelah pelayan itu pergi, suasana mengerikanpun dimulai.


Di satu sisi Tao sedang bermain dengan ponselnya, di sisi lain Sora sedang menebak isi kepala Tao. “ Jangan melihatku begitu!” seru Tao seolah mengetahui apa yang dilakukan Sora, meski sebenarnya ia masih menatap layar ponselnya.

Sorapun menyenderkan punggungnya ke badan kursi, menatap ke bawah entah apa, yang jelas bukan wajah Tao.





****




Tao POV




Setelah selesai makan, aku langsung mengajaknya ke tempat lain. yah…ke taman. Tepatnya taman tempat dimana kami sering bermain waktu kecil dulu. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, gadis ini tak banyak berkomentar dan mengikuti apapun yang ku lakukan.





“ Sekarang kau bisu?”


Ia menoleh padaku yang duduk dengan menghadapnya. “ Terus, kau ingin aku bicara apa?” tandasnya dengan datar. Kepalanya kembali terarah lurus ke depan.


Dari posisi dudukku sekarang, aku bisa melihat jelas wajahnya yang tersapu oleh helaian rambutnya yang tertiup angin senja. Ia masih menatap lurus ke depan. membuatku bisa menikmati figur wajahnya yang kecil.


“ Sora-aa…”


Kepalanya berputar membuatnya bisa berhadapan denganku. “ Ada apa?”


“ Apa kau merasa terpaksa bersamaku?” ia membulatkan matanya, namun tak lama ekspresinya kembali seperti sebelumnya, datar. “ Aku tidak masalah jika kau bilang iya, katakan saja yang sejujurnya.” Ucapku lagi, tapi kali ini ia menoleh dan menatapku dengan intens.


Tapi setelah itu, ia beranjak dari duduknya,  kemudian berjalan beberapa langkah ke depan. karena tak mengerti dengan dirinya, aku langsung mengikuti langkahnya, aku berdiri tepat di sebelahnya.



“ Perasaanku tak menentu, awalnya aku merasa kesal entah apa yang kurasa. Yang jelas aku merasa sangat marah saat Kihyun menciummu. Tapi kenapa? Itulah yang tidak ku mengerti, tapi di saat aku sedang mencoba mengerti perasaanku, tiba-tiba Jong Dae datang. ia menanyakan bagaimana perasaanku, ia mengatakan kalau aku menyukaimu, di saat bersamaan aku jadi merasa bersalah. Rasanya aku sangat keterlaluan, dan setelahnya kau malah bilang menyukaiku, disaat aku sedang merasa prihatin. Jujur itu sangat rumit untukku, ak…” aku langsung merengkuhnya, membawanya masuk ke dalam pelukanku. Membiarkan perasaan tenang menyelimutinya.



“ Maaf..aku tidak tahu jika seperti itu. kalau aku tahu dari awal, mungkin aku tidak akan mendesakmu, bahkan sampai meminta izin appamu untuk menjadikanmu kekasihku.” Ucapku sambil terus mengeratkan pelukanku sambil mengelus kepalanya.


“ Tapi…apa tidak merasa aneh?” aku langsung melepas pelukanku, dan baru ku sadari jika tubuhnya begitu gemetar. “ Ada apa?” tanyaku tak mengerti.



“ Jadi…kau menganggapku sebagai kekasihmu?” aku mendesah pelan. “ Tentu, memangnya kau tidak?” 


“ Aku tidak tahu, seminggu terakhir ini kau terus diam, aku mana tahu harus bersikap seperti apa.”

“ Awalnya aku berpikir jika kau terpaksa bersamaku, buktinya waktu itu kau hanya menjawab Aku tidak bisa menolak bukan? jadi terserah saja. jawaban macam apa itu?” protesku tak mau ia menyalahkanku.


“ Terus aku harus menjawab apa? saat itu ada orang tuaku dan juga ibumu. Aku masih punya malu untuk menjawab dengan jawaban yang lebih baik.”


“ Ckk…sudahlah! Kenapa malah membahas itu sih?” kesalnya tak ingin memperpanjang masalah yang sama.

“ Sora-aa..”

“ Eung…”


Aku menatapnya lekat begitupun dengannya, namun matanya terus berpindah beralih dari satu titik ke titik lain. semilir angin lembut menerpa kulitku menghadirkan sensasi nyaman, membuatku terus mendekat padanya. Wajahku mendekati wajahnya, menuju sesuatu yang tak pernah ku bayangkan. Hingga sepersekian detik berlalu, sensasi lembut kini menyapu permukaan bibirku. Ia langsung menutup matanya, bahkan sebelumnya ia memang sudah terpejam. Aku mengecupnya pelan. “ Saranghae.” Kembali ku cium bibirnya dan menahannya terus di sana. Membiarkan semua yang ku rasakan terluapkan dengan sendirinya, tanpa terburu-buru. Mempersilahkan sinar senja menyinari muka bumi ini.

*****





Epilog Story



Author POV


At Chung Ang University



Kesibukan berlarut pada kepenatan di dalam suara-suara rendah yang sedang mendiskusikan tugas masing-masing. Begitu yang dilakukan oleh Sora, Tao, Ki Hoon, serta Nayoung. Keempat manusia itu masih serius dengan referensi buku yang sedang mereka pegang, sesekali mereka melirik orang di sebelahnya sekedar untuk menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti dari bacaan yang baru saja dibaca.



  Akhirnya aku selesai juga.” Ujar Nayoung sambil menutup buku yang telah selesai ia baca. Raut wajahnya yang tadi kusut, kini mulai tertata dengan baik kembali. Suasana hati gadis itu mulai kembali baik, setelah buku-buku yang menyita perhatiannya sejak beberapa jam lalu berhasil ia rampungkan. 



Ia bangkit dari tempat duduknya sambil memeluk erat buku-buku yang tadi ia baca, gadis itu berniat mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya. “ Sora-aa, kau sudah selesai belum?”. Sora mengangkat kepalanya untuk menatap Nayoung yang telah berdiri, membuat lehernya sedikit pegal.


“ Belum…kau duluan saja. nanti aku akan segera keluar ketika sudah menyelesaikannya.” Jawab Sora kemudian kembali memfokuskan dirinya pada buku yang sebelumnya sedang ia baca.


Nayoung sedikit terkekeh sambil menatap jahil temannya itu. “ Ah…begitu memang. Kalau ditemani pujaan hati rasanya benar-benar menyenangkan, meski di depan mata tengah dihadapkan dengan setumpuk tugas memuakkan dan harus mendekam bosan di dalam perpustakaan. Asalkan bersamanya rasanya tak masalah.” Goda Nayoung memicu Sora untuk menolehkan kepalanya pada gadis itu. “ Baik..aku akan keluar sekarang juga.” Tegas Sora yang hendak merapihkan buku-bukunya.


“ Eitss…aku hanya bercanda. Kau ini cepat sekali marah.” Tahan Nayoung sambil menuntun Sora untuk kembali duduk. Melihat hal itu, Tao serta Ki Hoon hanya menatap ke arah dua gadis itu kemudian kembali beralih pada bukunya.


“ Ya sudah…aku duluan.” Ucap Nayoung masih tersenyum jahil. Sora hanya mencebikkan bibirnya, “ Pergilah secepatnya!” balas Sora sinis.


Tapi saat ingin membalik tubuhnya, pandangan Nayoung beralih pada sosok di sebelah Tao, Ki Hoon. Sebuah rencana langsung melintas dalam pikirannya, ia pun dengan segera menghampiri sosok itu kemudian memaksanya untuk pergi dari perpustakaan.


“ Wae geurae?” protes Ki Hoon dengan kesal bercampur heran. Ia tak mengerti kenapa gadis di depannya menarik lengannya secara tiba-tiba. “ Kau ingin terus disini? Ayolah beri kesempatan mereka untuk berdua. Selama ini kau terus mengintili Tao, kau tidak kasihan? Pasti temanmu juga ingin bersama yeojachingunya.” jelas Nayoung.



Sontak saja, Sora dan Tao langsung menoleh ke arah Nayoung. “ Yak…Kau!” geram Sora sambil memelototi temannya.


Tapi Nayoung tak menyurutkan niatnya, ia terus memandangi Ki Hoon seolah mengintrupsi pria di depannya agar mau menuruti apa yang ia perintahkan. Setelah berulang kali bertukar pandangan, Ki Hoon mendesah pelan. Ia mengalah, apalagi saat ia melihat ke arah Sora dan Tao. Ia tentu sadar jika dua orang itu jarang sekali punya waktu bersama. “ Ahhh..baiklah.”


Pada akhirnya Nayoung tersenyum puas, apa yang direncanakannya berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Ki Hoonpun langsung memberesi buku-bukunya, kemudian mengikuti langkah Nayoung karena gadis itu masih menarik lengannya. “ Kau menyukaiku?” tanya Ki Hoon sambil melirik tangan Nayoung yang masih menggenggam lengannya. Melihat itu, Nayoung langsung melepasnya. “ Jangan banyak berharap, tuan!” lontar Nayoung kemudian melenggang pergi. Ki Hoon langsung berjalan cepat mengikuti gadis yang baru saja meninggalkannya.



Setelah dua orang itu benar-benar pergi, Sora langsung memutar kepalanya setelah sebelumnya ia terus menyaksikan tingkah dua temannya tadi. Ia terlonjak kaget, kemudian mendadak gugup saat ia menemui mata Tao yang tengah memandangi dirinya. Gadis itu jadi tak bisa diam, duduknya tak tenang, berulang kali ia menggaruk tengkuknya sambil berdehem tak jelas.


Ia pun langsung menggenggam erat bukunya, kemudian mencoba untuk mengalihkan perhatiannya pada buku itu. tapi percuma saja, karena ia sama sekali tak bisa menyingkirkan perasaan gugupnya. “ Oh Ya, ini buku catatanmu.” Sora mendelik ke arah Tao, kemudian pada benda yang baru saja diangsurkan pria itu, buku catatan miliknya. Tapi perhatiaannya kemudian tercuri pada beberapa benda yang berserakan di dekat tas milik Tao yang tergeletak di atas meja.


Berulang kali matanya menyipit, memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Ingatannyapun ia paksa untuk bekerja, untuk mencari ingatan-ingatan. “ Buku itu…” Tao langsung melirik Sora kemudian mengikuti arah pandangan gadis itu.


“ Buku diarymu?” ulang Tao.


“ Kenapa bisa ada padamu?” tanya Sora sedikit tertahan. ia masih mencoba mengingat-mengingat apa yang pernah terjadi padanya sehingga buku itu bisa ada pada Tao.

Lelaki itu menatap Sora dengan tidak percaya, dalam benaknya ia sedang mempertanyakan ingatan gadis itu. “ Kau tidak ingat? Kau sendiri yang memberikan buku ini pada nyonya Im, dan nyonya Im memberikannya padaku.” Urai Tao.


Sora mengangguk-anggukkan kepalanya, kini ia sudah ingat apa yang terjadi. tapi kepalanya perlahan berhenti saat sesuatu terlintas dalam pikirannya. Mimik gadis itu langsung berubah menjadi tegang, membuat pria di depannya mengerinyit heran.


“ Ada apa?” tanya Tao.


“ Kau…apa kau sudah membaca semuanya?”


Tao hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan. “ Semuanya?” ulang Sora. gadis itu merasa telah kehilangan wajahnya saat Tao kembali mengangguk, kini harga dirinya seolah sudah  jatuh hingga ke jurang terdalam.   Membuatnya terdiam, meratapi nasibnya. Bagaimana pandangan Tao mengenai dirinya setelah membaca semua tulisannya dalam buku itu.


“ Dari semua yang kau tulis, aku tidak mengerti dengan bagian ini.” Tao mengambil diary itu, kemudian membukannya pada halaman yang ia inginkan. Ia meletakkan buku itu di depan gadisnya, berharap gadis itu mau menjelaskan semuanya.



Lalu aku harus apa????? menangis? Berteriak? Atau mengadu? Kenapa harus seperti ini? Isshh… aku menangis. Argghh…sepertinya aku mulai gila, bagaimana bisa aku berpikir bahwa menulisnya di buku ini akan membuatku lebih tenang?



Gadis itu langsung mengangkat kepalanya, memandangi Tao dalam kebingungan serta kebisuan yang malah menyedot perhatian lebih dari pria itu. “ Bisa kau jelaskan ini?”.


Sora menunduk, matanya kembali menemukan tulisan-tulisan itu sekilas. Pikirannya hilir mudik berganti, dari tenang hingga sedikit resah. Ia pun kembali menatap pria di depannya dengan setumpuk keraguan dalam matanya.


“ Aku…aishh bagaimana ya aku mengatakannya?. Keurae…”



“ Saat itu aku kesal…kesal karena aku tahu kau menyukai Hana. Dan kalian berdua saling menyukai, itu membuatku terganggu. Aku kesal karena tak tahu harus berbuat apa. di satu sisi aku ingin merasa senang, tapi apa daya? Aku malah merasa sangat kesal.”


Tao mengangguk pelan sambil tersenyum simpul, tapi rasa bahagia dalam hatinya tidak sesimpul dan sesederhana senyum yang diperlihatkannya. Bisa dibilang ia sangat senang saat mendengar penjelasan dari mulut Sora. “ Kalau seperti itu, kenapa kau bertingkah seolah-olah tidak terjadi apapun. Kau malah bersedia menjadi perantara diantara aku dan Hana?. Kau sering sekali menyampaikan surat-surat yang Hana tulis untukku.”



“ Dia teman baikku, mana bisa aku menolaknya?” Sora merengut sebal. Perasaan gadis itu sekarang, sangat kesal dan malu. Rasanya ia ingin membuang wajahnya dan menggantinya dengan wajah yang baru.


“ Oh begitu ya..” gumam Tao sambil terus mengangguk. Senyum jahil di wajahnya tak kunjung pupus, membuat gadis di depannya semakin kesal.


“ Jadi sekalipun temanmu menyukaiku, kau akan merelakanku dengannya? Tak peduli bagaimana perasaanmu?”




Suasana yang tadi sangat menyebalkan, berubah kontras menjadi begitu mendebarkan. Entah kenapa, setelah mendengar pertanyaan Tao, jantung Sora berdegup begitu kencang, membuatnya sedikit sulit untuk mengatur sistem pernafasannya.


Lagi-lagi Tao tersenyum, tapi kali ini tak lagi mengejek melainkan tersenyum tulus. Menunjukkan senyum terbaik yang ia miliki. Ia pun mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Sora lebih dekat.


“ Meski kau akan melakukan hal bodoh itu, aku tidak akan meninggalkanmu, meski kau menghindar dan menjauh dariku. Ingat itu!” ujar Tao membuat degupan hati Sora kembali berpacu dengan cepat. Membuat adrenalinnya seolah diajak bermain.


“ Asal kau tahu, aku tidak pernah menyukai Hana.” Mata Sora membulat, gadis itu kehilangan kata-kata, meski dari tadi ia belum berucap apapun.


“ Tapi…kau bilang, kau menyukai gadis pintar dan cantik di kelas. Gadis itu begitu menawan, memiliki banyak teman dan disenangi banyak orang. Bukankah Hana seperti itu?” Protes sora. Mendengar ocehan gadis di depannya, Tao melenguh.


 Apa hanya Hana? Ahh…kau tidak merasa kalau aku sedang menjabarkan dirimu?” urai Tao frustasi.


Mulut Sora terkatup, menutup seiring dengan keterkejutannya. Kenyataan yang selama ini berbanding terbalik dengan pikirannya, sungguh membuat jantungnya terus dan semakin berdetak dengan cepat. Ia menghela nafasnya, mencoba menjernihkan pikirannya. Memastikan bahwa apa yang didengarnya barusan bukanlah sebuah kesalahan.


“ Tapi kenapa kau tidak membantah saat semua teman-teman yang bilang kau menyukai Hana? Kau malah diam bertingkah seolah semuanya benar dan membiarkan semua orang beranggapan seperti itu.” tutur Sora.


“ Aku bisa saja mengatakan aku tidak menyukainya, tapi aku teringat dengan ucapanmu. Kau bilang Hana adalah gadis dengan hati yang mudah terluka, ia tidak sekuat kelihatannya. Kau pikir aku tega melakukannya? Lagipula aku memikirkan bagaimana pandanganmu terhadapku setelah itu, kau pasti menganggapku jahat jika benar-benar melakukan hal itu.” Jelas Tao yang kembali membuat Sora kehilangan kata-kata.


“ Mungkin ini terdengar sangat menggelikan, tapi ku rasa kau perlu mengetahui bahwa aku selalu berusaha untuk bisa membuatmu bangga, tak peduli bagaimanapun caranya.” Lanjut Tao yang benar-benar membuat Sora tak bergeming, bahkan ia hampir tak berkedip. Sebagai seorang gadis normal, ia merasa begitu bahagia mendapati kenyataan yang baru saja dikuak Tao.



Segala kata yang terus berlarian dan berharap dapat terlontar keluar, kini tak dapat terkuak begitu saja. Dalam situasi seperti ini, hanya mata yang menjadi alat komunikasi antara dua sejoli ini.





“ Agar kau tidak salah paham lagi untuk selanjutnya, aku akan mengatakan dengan jelas. Aku hanya menyukaimu, bukan Hana ataupun gadis lain. ingat itu! kalau kau tidak yakin bisa mengingatnya, aku akan mengatakannya setiap hari. bagaimana?”



“ Yak! Kau pikir ingatanku sekacau itu!”


“ Mungkin saja.”





~~ END ~~



Ni hao??? Asikk…bahasanya!!
Wew aku balik lagi, setelah sebulan gak nongol akhirnya muncul juga…tadinya mau publish sekitar tanggal 20-an lagian kan internet di rumah lagi mati, namun berhubung internetnya udah nyalah kembali jadi aku mutusin untuk publish sekarang.

Gimana? Akhirnya krik super garing yah?? Ok…bukan ff-ku kalau gak garing ya kan? Karena ini part terakhir jadi maklum ya kalo ini tuh super duper panjang. Semoga gak pada enek.  Oh ya…karena Mysterious sight udh kelar… untuk selanjutnya aku bakal bikin season baru dengan cast dan problema yang berbeda..

Jadi siapa giliran siapa ya selanjutnya? Hara? Cheonsa? Gyuri? Ji Eun atau Nayoung?. Pkoknya tunggu aja, meski aku juga belum tau mau publish bulan ini atau bulan depan. yang penting be patient aja!


Ok…itu aja dari aku. makasih udah baca^^






Zelo’s BFF

GSB




Comments

Popular Posts